Thursday, August 27, 2015

Era Jokowi: Perbandingan Kurs bak Batu Akik vs Pakaian Pria


Di tengah gejolak ekonomi dan politik pada awal pemerintahan Jokowi, banyak opini publik yang cenderung menyalahkan bahwa Jokowi lah penyebabnya. Dari screen capture di samping, di sini saya tidak mau bela siapa-siapa juga. Saya setuju dan mengamini pernyataan "jangan nyinyir duluan". Tapi... mari kita selidiki lagi berdasarkan data yang ada.

Kondisi seperti gambar disamping menurut saya tidak cukup adil, bak persepsi tentang "batu akik dan pakaian pria". Ya, batu akik. Sekarang benda ini sedang dalam masa tenarnya. Keunikan dari batu akik telah memikat banyak orang. Tapi yang paling utama dari batu akik adalah tingkat "ketembusannya". Semakin batu akik dapat tertembus oleh cahaya, maka semakin bagus kualitasnya, semakin mahal harganya, dan semakin banyak orang yang suka. Beda halnya dengan pakaian pria, semakin pakaian pria dapat tertembus oleh cahaya, berarti kain semakin tipis, semakin terawang, dan semakin nggilani. hehe
Baiklah, daripada kebablasan bahas yang tidak-tidak, langsung saja saya paparkan komparasi dari ketiga kurs berikut:


  • JPY vs USD
Jepang memiliki fundamental ekonomi yang kuat. meskipun tren tingkat ekspor Jepang cenderung menurun pada kuartal I 2015, ingat bahwa Jepang masih negara pengekspor terbesar ke-3 di dunia. Ekspor Jepang ke Amerika masih terus meningkat hingga 20%. Terlebih lagi tingkat ekspor ke Asia lebih dari setengah jumlah ekspornya, dimana kondisi mata uang Jepang mengalami penguatan terhadap mayoritas negara di Asia. Melemahnya JPY terhadap USD jelas memberi keuntungan tersendiri bagi Jepang dalam hal ekspor. Jadi, kondisi ini masih dapat dibendung dengan kuatnya industri multinasional Jepang.
  • TRY vs USD
Masalah Turki lebih cenderung soal keputusan yang diambil oleh Bank Turki. Di tengah hiruk pikuk politik yang semakin memanas dan kondisi ekonomi yang terus memburuk, saat itu Bank Turki dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu Lira dan Inflasi. Semakin melemahnya lira terhadap dollar dibarengi dengan inflasi yang cukup tinggi membuat Bank Turki malah meningkatkan suku bunganya untuk menekan inflasi daripada mempertahankan lira. Selain itu, koalisi partai Erdogan terpecah menambah beban politik Turki sehingga para investor enggan untuk menanamkan modalnya dan berada di posisi wait and see.
  • IDR vs USD
Memang terlihat bahwa Rupiah dan Yen sama-sama lesu terhadap Dolar Amerika, tetapi yang membedakan adalah ketahanan industrialnya. Dengan naiknya harga dolar atas rupiah, Indonesia berharap memperoleh keuntungan dari kegiatan ekspor. Tapi yang terjadi adalah ekspor Indonesia mulai dari kelapa sawit , karet, teh, kopi, batu bara yang mengalami penurunan, sebab ekspor Indonesia bergantung pada sektor pertanian dan pertambangan. Hasil tambang langsung diekspor mentahnya, jadi tidak ada nilai tambah. Apalagi faktor-faktor produksi juga sebagian harus diimpor, sehingga dapat membengkakkan biaya produksi. Pengaruh lembahnya rupiah yang paling dirasakan adalah oleh importir, yang harus menerima kenyataan bahwa harga barang impor naik selaras dengan naiknya dolar. Banyak perusahaan yang merugi karena mahalnya komoditi impor. Perusahaan-perusahaan besar mungkin masih bisa jalan dengan menekan biaya produksi mereka. Efektifitas masih dapat dicapai hanya dengan mem-PHK sebagian pekerjanya atau hanya dengan mengurangi kualitas dan volume produk. Namun, beda cerita dengan perusahaan-perusahaan kecil menengah yang juga berbasis impor. Tidaklah lagi memungkinkan untuk tetap menjalankan proses produksi pada kondisi seperti ini, yang pada akhirnya hanya memiliki satu pilihan saja, BANGKRUT.

Jadi kesimpulannya, batu akik dan pakaian pria itu sama sekali berbeda, bahkan latar belakangnya pun bertolak belakang.

No comments:

Adhimisme. Powered by Blogger.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons